Hari
ini tanggal satu Juli, airmata tak hentinya keluar dari mata ini, tenggorokanku
tersekat dan dadaku terasa sesak. Aku tak mengerti dengan semua yang terjadi, aku
berusaha mengernyitkan dahi dan mencoba mengingat semua hal yang telah ku
lalui. Yah, ternyata aku telah kehilangan segalanya. Yang aku maksud segalanya
adalah orang-orang yang ada disampingku, yang selalu menguatkanku, tempat aku
mencurahkan tangis dan bahagia, mereka sudah tak ada lagi. Mereka pergi.
Tinggal
aku sekarang, terduduk diam memandang kosong. Kamar tempat ku bersembunyi dari
dunia luar sepertinya tak lagi menyenangkan. Biasanya saat masuk kamar aku
merasa “bahagia” dan bisa melupakan segala hal yang membuatku muak. Tapi
sekarang aura kamar ini begitu suram, seakan tak ada jiwa lagi di dalamnya.
Menyedihkan.
Akhirnya
aku berusaha menenangkan diri dengan menulis. Terkadang memang ada beberapa hal
yang hanya bisa aku ungkapkan lewat tulisan. Mungkin karena aku tak mampu untuk
mengatakan apa yang aku rasakan. Yeah, aku memang seorang “introvert”, sekeras apapun orang yang berusaha membuka diriku tetap
tak akan bisa. Sebab aku memang tak mau semua tahu orang macam apakah aku ini.
Hal ini memang aneh, dan terjadi entah
sejak kapan. Mulanya saat kecil aku adalah orang yang terbuka dan senang
bergaul dengan siapapun, tapi ternyata ada sebuah insiden yang terjadi hingga akhirnya aku menjadi introvert seperti sekarang. Sebenarnya
aku memang tak ingin mengungkap jati diriku, tapi ya aku pikir memang sudah
saatnya semua orang tahu dan aku tidak akan perlu untuk berpura-pura lagi. Biarlah
orang tahu apa adanya diriku.
Menjadi
seorang introvert adalah hal yang
tidak menyenangkan (trust me). Karena
pada kenyataannya aku tidak bisa dekat dengan semua orang. Aku memang punya banyak
teman, tapi tidak semua teman bisa dekat denganku (secara emosional). Hanya
orang tertentu saja yang mempunyai rasa ketulusan lebih yang akan berada
disampingku dan menjadi sahabatku. Dan untuk mereka yang menjadi sahabatku, aku
pasti selalu berusaha menjadi sahabat terbaik bagi mereka. Tak jarang juga aku
sering berkorban untuk mereka dan memberi perhatian lebih agar mereka bahagia.
Tapi untuk orang yang hanya sekedar pura-pura atau ingin memanfaatkanku saja,
sudah dipastikan aku akan menjauhinya dan aku tidak akan respect dengannya. Sebab aku benci dengan orang yang bermuka manis
di depan tapi ternyata ada maunya cuma sekedar memanfaatkan aku. Apapun
alasannya memanfaatkan ku tetap saja aku tidak terima, sebab persahabatan itu
bukan untuk memanfaatkan sahabatnya (dalam bentuk apapun) melainkan untuk
saling mengerti, memahami, menemani dikala sedih atau senang dan dilandasi rasa
ketulusan. Sekali saya tekankan “Ketulusan!”.
Pernah
ada yang bertanya padaku, bagaimana caraku melihat seseorang itu tulus atau
tidak? Ya secara simple dan gamblang aku menjelaskan “melalui pengamatan” dan “rasa
nyaman”. Kedua hal tadi adalah yang biasanya aku lakukan saat mencari teman
maupun saat ada yang memintaku menjadi temannya. (Maaf) bukannya sombong memang
ada banyak yang memintaku untuk menjadi teman, apalagi saat perkuliahan S1 ini.
Untuk situasi tersebut aku akan menjawab “iya aku mau jadi temanmu”, karena aku
tidak lupa menjalin persaudaraan dengan
menjadi teman itu hal yang sangat penting. Tapi tunggu dulu karena untuk naik
level yang lebih tinggi menjadi sahabatku maaf saja tidak semudah itu. Pada
saat inilah aku mulai mengamati siapa saja teman yang datang padaku, apakah dia
tulus berteman atau cuma ingin memanfaatkan ku saja. Misalnya saja pernah ada
seorang teman yang baru kenal tapi sok akrab dan langsung pinjam uang (iya
kalau dikit, lha ini banyak banget) hampir sekitar 600 ribu. Lalu ya aku
jawab “Gile aje lu uang segitu mah gue kagak ada, uang saku sama buat bayar
kost aja pas-pasan eh lu malah mau ngutang”. Nah sudah jelas aku nggak akan
menjadikan dia sahabatku. Tapi dengan orang yang setia menemaniku, menanggapi
pembicaraanku dengan apa adanya (tanpa pura-pura), nyambung di ajak bercanda,
dan yang paling penting aku nyaman dengannya, sudah pasti aku menjadikan dia
sahabatku. Dan otomatis aku akan menjaga dia dan membahagiakannya, karena aku
juga ingin menjadi sahabat terbaik untuknya.
Seperti
sahabat-sahabat yang aku miliki sekarang sekitar 5 orang, ya memang jumlah yang
sedikit tapi hanya merekalah tempatku berbagi apapun. Mencurahkan segala keluh
kesahku bahkan tangisanku. Selama beranjak dewasa ini aku tak pernah menangis
di depan orang bahkan di depan orangtuaku sendiri. Aku selalu tersenyum,
tertawa dan bahagia seperti hidupku ini sempurna. Tapi hanya kepada sahabatku
aku berani menangis (secara live).
Dari 5 orang sahabatku hampir semuanya sudah pernah melihat aku menangis. Mereka
juga sudah tahu (dan mungkin hafal kebiasaan baik atau buruk ku), tertawa bersama
ku, menangis bersama dan melakukan hal yang gokil
bersama..hahaha. Yeah, aku ini aslinya memang orang gokil dan untuk menunjukkan ke ’gokilan’
ku (lagi-lagi) seseorang itu harus menjadi sahabatku. Selama ini sahabatku
sering mengatakan aku adalah sahabat terbaik dan tergokil yang mereka miliki, karena aku tak pernah kehabisan ide
untuk melakukan hal yang menyenangkan dan tertawa bersama-sama. Adalah hal yang
paling membahagiakan juga bagiku memiliki mereka (sahabat-sahabatku), merekalah
pengobat hatiku, inspirasiku, dan sumber semangatku menghadapi dunia yang penuh
kepalsuan. Benar, merekalah (sahabat-sahabatku) orang paling ‘apa adanya’ dan ‘tidak munafik’
seperti orang-orang kebanyakan yang pernah aku kenal. Meskipun sekarang mereka
berada jauh dan sedang menggapai mimpi masing-masing, aku tetap senantiasa
mendoakan yang terbaik untuk mereka. Semoga suatu saat nanti kita dipertemukan
lagi dalam keadaan sukses karena telah berhasil memetik bintang dilangit yang
selama ini selalu kita impikan bersama. :)
Love u so much guys, you are the
best friends that I ever have.. :) *hugs





0 komentar:
Posting Komentar